WAKAF MANDIRI - Sedekah itu sejatinya dianjurkan di setiap waktu, dan besaran ganjaran dan pahalanya bisa saja bertambah dalam kondisi dan waktu tertentu. Maka alangkah lebih baik dia mengetahui kondisi-kondisi dimana sedekahnya bisa bernilai lebih dan pahala berlipat daripada biasanya.
Berikut beberapa kondisi sedekah di waktu-waktu terbaik, yang pahalanya bernilai lebih. Yaitu,
1. Ketika bersedekah dengan diam-diam.
Nabi SAW bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari (kiamat) yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya, Seorang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kanannya memberi sedang tangan kirinya tidak tahu.” (HR Bukhari).
2. Ketika bersedekah pada orang miskin dalam posisi sangat-sangat membutuhkan.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)
3. Ketika bersegera sedekah saat harta sedang melimpah, fisik sehat, saat cinta-cintanya dengan harta.
Dari Abu Huroiroh rodiyallahu anhu berkata, datang seorang lelaki kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab: “Kamu bersedekah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu, lalu kamu berkata, berikan ini pada si fulan dan ini pada si fulan, dan harta itu memang sejatinya hak si fulan.” (HR. Bukhari)
4. Sedekah yang ditujukan pada kerabat, apalagi jika kerabat yang putus hubungan silaturrahim.
Rasul SAW bersabda, “Sadaqah yang paling utama adalah shadaqah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
5. Sedekah yang dilakukan di waktu mulia, seperti Ramadhan.
Ibnu Abbas berkata, “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan memberikan kebaikan. Beliau paling dermawan ketika di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari). Bisa dimaknai juga jika sedekah berada di tempat-tempat mulia. Seperti di Makkah, Madinah, Masjidil Aqsa.
6. Dikala sedekah berkumpul dengan puasa, mengiringi jenazah, dan mengunjungi orang sakit.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Rasulullah SAW bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim).
7. Nafkah yang diberikan pada keluarga.
Rasulullah SAW bersabda, “Dinar yang Engkau infaqkan di jalan Allah, dinar yang Engkau infaqkan untuk membebaskan seorang budak, dinar yang Engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang Engkau infaqkan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah infaq yang Engkau berikan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)
8. Sedekah yang pahalanya mengalir walau selepas pelakunya meninggal.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim)
Sedekah jariah bisa berupa sedekah untuk pembangunan masjid, musolla, ponpes, sarana-sarana kepentingan umum seperti jalan, jembatan dan lainnya.
9. Sedekah untuk membelanjakan harta pada amalan tertentu. Yang telah ditentukan oleh syariat dan dipilihkan waktunya, seperti menyalurkan harta untuk berkurban. Ini lebih baik daripada menyedekahkan mentahannya.