...
Waktu, Harta Berharga Yang Sering Dilalaikan

WAKAF MANDIRI - Saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan. Berbagai hal dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah. Sehingga lebih banyak waktu dan energi yang dapat disimpan.

Namun, dimanakah dan sedang apakah kita di energi dan waktu yang tersimpan itu. Apakah kita gunakan untuk melakukan berbagai hal yang bermanfaat. Sadarkah kita, bahwa kelak setiap energi dan waktu yang kita gunakan tersebut, juga ditanyakan pemanfaatannya.

Jadi, tak salah bila waktu disebut sebagai harta berharga. Karena barangsiapa menggunakan waktunya dengan baik untuk ketaatan kepada Allah SWT, maka ia akan menjadi orang yang beruntung akhirat dan dunia, begitu pula sebalikknya.

Di zaman sekarang, ragam sarana di bidang informasi, komunikasi, transportasi, dan penopang kehidupan lainnya kian hari semakin modern. Tukar informasi, komunikasi, dan interaksi dapat dilakukan dengan mudah, walaupun dari tempat yang berjauhan.

Kalau dahulu tukar informasi dengan cara berkirim surat atau telegram, di zaman ini cukup dengan SMS atau email. Kalau dahulu komunikasi dengan orang lain di tempat yang berjauhan dengan menggunakan telepon rumah atau pergi ke wartel, di zaman ini dapat dijalin dengan telepon genggam (HP).

Kalau dahulu safar ke pulau seberang membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, di zaman ini dengan pesawat terbang dapat ditempuh dalam waktu yang singkat. Kalau dahulu mencuci baju menggunakan tangan, sehingga menguras energi dan waktu, kini mencuci baju hanya dengan memencet tombol.

Termasuk pula dalam hal penyebaran ilmu dan agama mendapatkan porsi kemudahan tersendiri. Melalui sarana internet, berbagai kajian ilmiah berskala nasional bahkan internasional dapat diakses dengan mudah.

Namun, di balik berbagai kemudahan itu terselip sebuah kesulitan. Sebuah kesulitan yang tidak akan tampak, kecuali jika dilihat dengan kacamata takwa dan iman. Kesulitan itu adalah berkaitan dengan istiqamah (teguh) di atas agama Islam.

Keistiqamahan menjaga keimanan itu dikala sendiri, maupun bersama orang lain, dikala sibuk maupun luang. Karena segala kemudahan itu memberikan kenyamanan yang lebih, sangat rawan akan kelalaian, baik kelalaian untuk mengaji, beramal saleh, dan berdakwah. 

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah! Bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kalian, namun yang saya khawatirkan adalah kalian diberi kemakmuran dunia sebagaimana pernah diberikan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka. Sehingga akhirnya dunia menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wanita Modern

Sementara itu, Islam menempatkan wanita sebagai makhluk mulia, yang harus dijaga kehormatannya, bak mutiara yang mahal harganya. Sehingga wanita dianjurkan untuk lebih banyak terjaga di dalam rumah-rumah mereka, melakukan kewajibannya sebagai bentuk jihad fii sabilillaah. Karena di rumah itulah karier wanita dirintis, untuk menghasilkan generasi-generasi Islam yang cerdas, berakhlak dan berkepribadian Islami yang kuat.

Di zaman modern ini, berbagai pekerjaan rumah wanita telah banyak yang dipermudah. Seperti mencuci, memasak nasi sudah menggunakan mesin, ditambah lagi bagi yang memiliki pembantu, hampir seluruh kesibukan mengurus rumah telah teringankan.

Ditengah kemudahan-kemudahan itu, pastilah terdapat waktu-waktu luang yang mungkin masih sering terlalaikan. Entah terlalaikan karena terlalu asyik dengan gadget atau justru terlalaikan karena terbuai kenyamanan akan berbagai kemudahan yang dirasakan. Sehingga menjadikan malas. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bahwa setiap waktu kita, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Wanita dirumah, bukan berarti bersantai-santai. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang yang ada. Misalnya, saat mencuci dengan mesin bisa di iringi dengan berdakwah secara tertulis. Memasak dan membersihkan rumah diiringi dengan mendengarkan kajian. Mengawasi anak bermain diiringi dengan berdzikir, serta mendidik anak dan melayani suami di niatkan dengan ibadah. Tentunya semua itu dilakukan atas dasar ilmu, agar tidak ada kewajiban-kewajiban wanita yang tak tertunaikan.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9).