...
Teguran Allah SWT

WAKAF MANDIRI - Ketika kecil, kita sering mendengar dari orang tua berbagai kisah yang menggambarkan tentang keadilan Allah SWT. Di antara kisah itu diceritakan ada seorang yang pernah meragukan keadilan Allah ketika membandingkan buah semangka dan beringin. Mengapa pohon semangka itu kecil, padahal buahnya besar -- sedang beringin sebaliknya? Ketika orang itu sedang asyik mengamati 'ketidak-adilan' pada pohon beringin itu, tiba-tiba beberapa buah pohon beringin jatuh dan mengenai kepalanya.

Seketika itu ia langsung beristighfar, ''Allah Mahaadil. Coba seandainya buah beringin sebesar semangka, tentu muka saya sudah hancur.'' Sebelum mengakhiri cerita itu, orang tua kita lalu menyimpulkan bahwa itulah cara Allah menegur hamba-Nya. Orang tadi beruntung karena cepat menyadari kekeliruan jalan pikirannya terhadap keadilan Allah. Ia peka akan 'tanda-tanda' alam sebagai 'bahasa' Tuhan yang mengingatkan kesalahan pandangannya.

Tanda-tanda alam sebagai teguran, sesungguhnya tidak hanya terdapat pada kisah orang tua kita di atas. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendapatkan berbagai teguran dari Allah itu. Dalam sejarah Islam, misalnya, peringatan Allah untuk memarticleshukan kepada manusia tentang kerasulan Muhammad SAW, ditunjukkan dengan beraraknya awan yang selalu menaungi beliau ke mana pergi.

Barangkali, kita juga sering ditegur Allah akan kekeliruan langkah dan perilaku kita dengan bahasa-bahasa alam semacam itu. Tapi, karena kita kurang peka, teguran tersebut sering kita abaikan, hingga akhirnya kita terkena bencana.

Sesungguhnya Allah masih terus mengingatkan hamba-hambaNya dengan teguran alam. Ketika kita menyaksikan sepotong daun yang layu dan jatuh, itu sesungguhnya peringatan Allah SWT untuk mengingatkan kita, bahwa pada saatnya kedudukan daun yang terletak pada setiap bagian pohon akan lengser juga.

Saat ini, teguran Allah SWT tak hanya ditunjukkan melalui bahasa-bahasa alam yang halus. Tapi, melalui 'bahasa-bahasa' manusia yang nyata dan terang benderang. Lihat saja, betapa banyak penguasa dan hartawan yang dulu sangat dihormati dan disembah-sembah, tiba-tiba kini dicemooh orang. Itu semua terjadi karena mereka tak mau memperhatikan teguran Allah SWT yang ada dalam kehidupan sehari-hari.