...
Sabar Menghadapi Ujian dari Allah SWT

WAKAF MANDIRI - Perjalanan kehidupan terkadang membawamu terperosok dan jatuh dalam berbagai kesulitan. Kesulitan-kesulitan itu terasa lebih berat. Dada seolah-olah menjadi sesak. Bumi yang begitu luas terhampar, seolah-olah menjadi sempit bagimu. Apakah keadaan ini akan membawa kita berputus asa? Bersabarlah.

Rasulullah SAW bersabda, “Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid)

Rasulullah SAW telah menggambarkan kepada umatnya, bahwa kesabaran itu seperti sebuah cahaya yang panas. Dia memberikan keterangan di sekelilingnya, tapi memang terasa panas menyengat di dalam dada.

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah.” (Bersabar dalam menghadapi takdir Allah, termasuk cabang keimanan kepada Allah).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini. Yakni, Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati, tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syariat (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syariat (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba, supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Maka hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syariat. Serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh AllahSWT untuk menempa hamba-hambaNya.

Dengan demikian, ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. Adapun ujian dengan ajaran agama, sebagaimana tercermin dalam firman Allah SWT kepada Nabi-Nya SAW di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Allah ta’ala berfirman, Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu.’

Maka hakikat pengutusan Nabi SAW adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

Untuk melaksanakan berbagai kewajiban, tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan, dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan), tentu juga diperlukan bekal kesabaran.

Oleh sebab itulah, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”

Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar, ketika tertimpa musibah. Maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan, bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.

Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang, ketika mereka mendapatkan ujian, berupa musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan, ketika tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu, beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, hukumnya juga wajib.