...
Nggak Perlu Khawatir Dengan Rezeki, Karena Dia Nggak Mungkin Salah Alamat

Pernah nggak sih merasa iri saat melihat pencapaian orang lain?

Lihat teman yang sudah mapan, kerja di tempat bergengsi, punya bisnis yang sukses, atau bisa traveling ke mana-mana. Sementara diri sendiri masih berjuang, kadang bingung arah, bahkan sempat bertanya dalam hati, “Kapan ya giliranku?”

Padahal, kalau mau kita renungkan lebih dalam, setiap manusia sudah punya jatah rezeki yang Allah takar dengan sangat sempurna. Nggak ada yang salah alamat, dan nggak ada yang tertukar. Semua sudah diatur sesuai kebutuhan, kemampuan, dan waktu terbaik yang hanya Allah tahu.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

 وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ۝٦

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.1 Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).” (QS. Hud: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menjamin setiap rezeki makhluk di muka bumi. Termasuk manusia, burung, bahkan semut kecil di bawah tanah pun tak luput dari pengaturan-Nya. Jadi kalau semut saja Allah beri makan, bagaimana mungkin manusia dibiarkan tanpa rezeki?

Masalahnya sering bukan pada rezeki yang belum datang, tapi pada hati yang kurang sabar menunggu. Kita sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, sampai lupa bahwa setiap orang punya jalan dan waktunya sendiri. Apa yang terlihat cepat bagi orang lain, belum tentu cocok untuk kita. Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena Dia lupa, tapi karena Dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik di waktu yang tepat.

Rezeki bukan hanya soal uang. Kadang ia datang dalam bentuk kesehatan, waktu luang, keluarga yang hangat, teman yang baik, atau kesempatan untuk belajar dan berkembang. Tapi karena fokus kita terlalu sempit pada angka dan materi, kita sering nggak sadar bahwa sebenarnya kita sudah kaya dengan berbagai nikmat lain yang tak ternilai.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pagi-pagi keluar dalam keadaan lapar, dan sore hari kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Burung itu nggak duduk diam menunggu rezeki jatuh dari langit. Ia tetap terbang, mencari, dan berusaha. Tapi di dalam hatinya ada keyakinan penuh bahwa Allah akan mencukupi kebutuhannya hari itu. Begitu pula seharusnya manusia... berusaha dengan sungguh-sungguh, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena yakin saja tanpa usaha adalah angan-angan, tapi usaha tanpa keyakinan adalah kelelahan yang sia-sia.

Sering kali, rasa khawatir terhadap rezeki justru membuat seseorang lupa bahwa yang lebih penting bukan banyaknya rezeki, melainkan keberkahannya. Rezeki yang berkah akan terasa cukup, menenangkan, dan membawa manfaat. Sedangkan rezeki yang tidak berkah, meski banyak, akan cepat habis dan tidak memberi ketenangan. Maka, saat kita diberi sedikit tapi cukup, itu tandanya Allah sedang melatih rasa syukur kita agar hati tetap tenang.

Dan kalau ingin rezeki bertambah berkah, salah satu kuncinya adalah berbagi.

Bersedekah atau berwakaf bukanlah tanda kelebihan harta, melainkan tanda keyakinan bahwa Allah nggak akan pernah mengurangi rezeki orang yang memberi. Justru dari memberi, pintu rezeki sering terbuka lebih lebar. Rasulullah SAW bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Kalau dipikir logika manusia, memberi berarti berkurang. Tapi dalam logika Allah, memberi justru melipatgandakan. Setiap sedekah atau wakaf yang kita keluarkan menjadi ladang pahala yang terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Itu sebabnya para ulama menyebutnya sebagai “investasi akhirat” yang nilainya tak akan pernah jatuh.

Jadi, buat apa iri pada pencapaian orang lain? Mungkin Allah sedang mempercepat rezeki mereka, tapi bukan berarti kita tertinggal. Bisa jadi Allah sedang memperlambat langkah kita agar sampai di tujuan dengan bekal yang lebih matang.

Rezeki nggak pernah salah alamat. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus berusaha, menjaga niat tetap lurus, dan percaya bahwa setiap langkah baik akan membawa balasan yang sepadan. Kalau waktunya tiba, rezeki itu akan datang dengan cara, waktu, dan bentuk yang paling indah.