WAKAF MANDIRI - Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim)
Hadits yang mulia ini, memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita. Yakni,
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta. Sedekah adalah ibadah. Allah mencintai orang yang suka bersedekah dengan ikhlas.
Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at, maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya, ia suka berlaku dzalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu, dibuat sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan laranganNya…” (al-Fawa’id, hal. 89).
Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia. Memberikan motivasi, merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi SAW.
Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal saleh. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita. Dengan demikian, ketika di dunia, maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf. (Syarh Muslim [8/194]).
Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah, akan bisa merubah musuh menjadi teman. Sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah. Atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya. (Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
Allah mencintai orang yang pemaaf. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (Syarh Muslim [8/194]).
Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasulNya. Serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat. Yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya. (Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan, serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba. (Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (QS. al-Hujurat: 13).
Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.
Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela. Misalnya, kikir dan sombong dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia.
Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka. Sesungguhnya ketaatan itu, meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa, pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri.
Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu, meskipun terasa menyenangkan dan enak, maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89).
Allah SWT telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 216)
Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar, yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya guna berinfak di jalan Allah. Mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya. Serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.
Ketiga macam amal saleh ini bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah SAW, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau.
Allah SWT berfirman, “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)