...
Kesombongan Menghalangi Kebenaran

WAKAF MANDIRI - Rasulullah SAW mengabarkan dalam sebuah hadits, bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya terdapat kesombongan. Beliau SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang ada di dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan”. Lalu ada seorang lelaki dari sahabat Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian pula sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan wahai Rasulullah?”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Itu bukan kesombongan. Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.“ (HR. Muslim).

Dalam hadits ini Rasulullah SAW mengabarkan, bahwa kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk surga. Dan Beliau juga menjelaskan hakikat kesombongan, bahwa kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.

Baik karena orang yang ia remehkan itu miskin atau ia lebih rendah derajatnya atau jabatannya dalam masalah ilmu dan amalan saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi seseorang itu keburukan, ia menganggap remeh Muslim yang lain.” (HR. Muslim, no.2564).

Ketika suatu kebenaran telah sampai kepada seseorang, berupa Al-Quran dan hadits Nabi SAW, kemudian ia menolaknya karena kelebihan yang ia miliki atau kedudukan yang ia miliki. Maka ini menunjukkan adanya kesombongan dalam dirinya.

Terkadang misalnya, ada orang yang memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, ketika melihat orang biasa atau rakyat jelata, ia merasa dirinya punya kelebihan, lalu ia pun bersombong diri. Atau terkadang juga kita merasa punya kelebihan ilmu, punya titel yang tinggi, ketika melihat orang yang lebih rendah titelnya, dalam diri kita terasa ada sesuatu perasaan lebih baik dari dia. Inilah sebenarnya benih-benih kesombongan.

Rasulullah SAW mengatakan, sombong itu menolak kebenaran, dan kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, berupa Al Quran dan hadits Nabi SAW. Betapa banyak kesombongan yang menyebabkan seseorang terhalang dari kebenaran. Lihatlah iblis, ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam karena kesombongan yang ada dalam hatinya.

Allah SWT berfirman, “Ia enggan dan sombong, sehingga ia pun termasuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).

Lihatlah Fir’aun, ia merasa merasa sombong dengan kelebihannya, ia merasa sombong dengan kedudukan yang ia miliki. Sehingga ia menolak dakwah yang disampaikan Nabi Musa.

“Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Yunus: 75).

Orang yang bersombong diri, biasanya ia tidak bisa mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menyadari, bahwa apa yang Allah berikan kepada kita berupa kelebihan-kelebihan, baik itu kekayaan, kedudukan, hakikatnya adalah pemberian dari Allah SWT.

Orang kaya hendaknya sadar, kekayaan itu datangnya dari Allah. Orang yang punya jabatan atau kedudukan hendaknya sadar, bahwa kedudukan itu adalah amanah di sisi Allah yang akan dimintai pertanggung-jawabannya. Bukan untuk disombongkan sama sekali.

Orang yang berilmu segera sadar, bahwa ilmunya itu bukan untuk disombongkan, tapi untuk menjadikan ia lebih tawadhu dan lebih takut kepada Allah SWT. Orang yang beramal saleh, banyaknya amal saleh bukan untuk dibanggakan dan disombongkan. Tapi untuk membuat ia lebih dekat kepada Allah.

Orang yang sombong itu pada hakikatnya tidak menyadari jati dirinya, tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Bahwa dia hakikatnya adalah seorang hamba. Hamba yang tidak punya dan tidak memiliki apa-apa. Lalu untuk apa ia menyombongkan diri dengan segala kelebihannya, sementara pada hakikatnya ia tidak memiliki apapun.

Maka dari itu, jika kita diberi Allah SWT kelebihan, berhati-hatilah. Segera introspeksi diri, segera periksa hati kita. Jangan sampai itu menimbulkan kesombongan yang menyebabkan kita terhalang masuk surga.