WAKAF MANDIRI - Pernah didera perasaan galau, gelisah, sedih, tak punya semangat hidup, dan berbagai pikiran negatif lainnya, yang ujung-ujungnya membuat hidup tak bahagia? Ironisnya, banyak orang Islam yang merasakan hal ini.
Padahal teorinya, seorang muslimah yang telah bertauhid “Laa ilaaha illallaah” dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Dan tak hanya sekedar ucapan, tapi juga memahami makna serta aplikasinya, pasti akan bahagia.
Namun pada kenyataannya, manusia banyak yang menganggap dirinya kurang bahagia. Padahal, salah satu indikasi calon penghuni surga, adalah orang yang semasa hidup di dunia mampu meraih kebahagiaan!
Kadang orang menilai terlalu berlebihan, ketika melihat sosok muslimah yang selalu menutup auratnya, rajin ibadah, kata-katanya manis dan memukau di depan orang lain. Serta tampilan-tampilan luar yang membuat orang lain kagum, simpatik dan memandangnya sebagai sosok hebat tanpa cela.
Padahal semua opini di atas belum menjamin orang yang bersangkutan mampu merasakan oase kebahagiaan sejati. Satu hal yang kadang terlupa, yaitu faktor hati, karena ketika hati seorang itu baik dan benar, ia pasti akan bahagia.
Dalam hadits dikatakan, “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim).
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan, “Obatilah hatimu, sebab tuntutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah kebaikan hati mereka!” (Hilyatul Auliyaa’, II / 176 . No. 1832).
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta–harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).
Hati dalam diri seorang mukmin memiliki kedudukan dan peranan penting, karena dihati itulah bersemayamnya keimanan kepada Allah dan tempatnya segala keikhlasan dalam beribadah. Di hati juga berseminya berbagai perasaan cinta, takut dan harap, berserah diri seutuhnya pada Allah SWT.
Hingga ada doa spesial, agar kita memiliki hati yang lurus. Yakni, “Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agamaMu.” (HR. At-Tirmidzi).
Hati yang selembut kaca akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara ketaatan dengan kemaksiatan. Orang yang memilki hati yang selamat, dia akan punya mata hati yang tajam, peka dan sensitif ketika aneka racun virus penyakit mulai masuk dan menimbulkan noktah dosa.
Namun disaat hati keruh dan tak sebening kaca, ia akan memandang dosa dan kedurhakaan dengan sudut pandang hawa nafsu yang cenderung pada kesesatan. Dengan kondisi itu, sangat mungkin hati tak lagi sehat. Bahkan jika dibiarkan, maka hati bisa dalam kondisi kritis dan mati. Ketika keadaannya telah parah, maka perlu terapi terus menerus dengan mensucikannya dari penyakit dan memberinya nutrisi dan gizi yang diambil dari Al-Quran dan Hadits Shahih.
Musibah penyakit hati, bisa menimpa siapa saja, ketika ia tak mentauhidkan Allah SWT dan berbuat syirik. Setan terlalu berpengalaman dan memilki banyak cara untuk menggoda manusia. Dan perangkapnya sangat canggih, ia menyusup dalam diri manusia melewati aliran darah.
Ibnul Qoyyim berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat,
Jika engkau tidak dapati hatimu ditempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah SWT agar menganugerahkan hati, karena sesungguhnya engkau tidak punya hati.” (Fawaa’idul Fawaa’id , hal : 479).
Hati yang sehat dan selamat, akan selalu membutuhkan nutrisi dan gizi, agar selalu terjaga dan terawat. Sehingga menjadi hati yang lembut, selembut salju.