...
Cara Mendapatkan Amal Jariyah

WAKAF MANDIRI - Sebagai umat Islam, tentu kita ingin masuk surga dari amalan yang telah kita kumpulkan saat di dunia. Dan salah satunya adalah amal jariyah. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Dari ayat ini, kita bisa mengetahui bahwa memang Allah sendiri memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan datangnya hari akhirat dan mempersiapkan diri. Setiap amalan yang manusia lakukan, akan dimintai pertanggungjawabannya dan akan diberikan balasan sesuai dengan perbuatannya. Untuk itu, jangan sampai kita menyesal setelah sampai di akhirat. Padahal, Allah SWT memberikan banyak waktu dan kesempatan untuk kita menyiapkannya saat di dunia.

Salah satu hal yang sangat didambakan oleh sahabat Nabi SAW terdahulu adalah memiliki pahala jariyah yang tidak terputus sampai kapanpun. Tentu saja, sebagai umat Islam kita pun pasti menginginkan hal tersebut. Walaupun sudah tiada di dunia, tapi pahala dari amalan kita masih mengalir.

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, anak saleh yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Maksud hadist tersebut, bahwa sedekah kebaikan merupakan amal jariyah yang tidak akan pernah putus manfaatnya, sekecil apapun. Jika salah satu dari ketiga hal tersebut kita amalkan, tentu Allah SWT akan membalas dengan pahala yang terus mengalir tanpa terputus. Tentunya harus dengan niat yang lurus dan ikhlas saat menjalankannya. Fokus kepada tujuan akhirat bukan pada dunia semata.

Cara mendapatkan pahala Jariyah. Yakni,

1. Menyampaikan dan Mengajarkan Ilmu yang Bermanfaat.

Salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat. Untuk mendapatkan pahala jariyah dari ilmu yang bermanfaat, kita bisa mengajarkan langsung ilmu tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan. Menuliskannya dalam buku atau media yang dapat diakses atau dibaca orang banyak, atau menyampaikannya dalam forum yang tepat.

Dalam Islam, ilmu sangat bernilai tinggi. Seluruh kehidupan manusia tidak ada satupun yang bisa dilakukan tanpa ilmu yang benar. Kemajuan teknologi, bahkan kemudahan-kemudahan yang bisa kita dapatkan pun karena buah dari ilmu pengetahuan. Apalagi jika berkenaan dengan ilmu keislaman.

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:“Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 11).

Untuk itu, jangan ragu untuk menyampaikan kebenaran dari sebuah ilmu. Jika kita menyampaikannya dengan baik, maka kita bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Bisa juga untuk mengubah kehidupannya ke jalan yang benar. Hingga membangun peradaban yang maju dan sejahtera.

2. Mendidik Anak-anak dan Keluarga yang Saleh.

Anak dan keluarga adalah titipan dari Allah SWT. Tidak salah jika Allah menjadikan doa anak yang saleh sebagai amal dan pahala jariyah. Untuk bisa menjadikan anak yang saleh tentu saja butuh usaha dan pendidikan yang kuat dari orang tuanya.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Bersyukurlah bagi yang diberikan amanah berupa anak dari Allah SWT. Artinya, kita memiliki peluang dan kesempatan untuk bisa mendapatkan amal jariyah, jika kita sungguh-sungguh mendidik anak kita menjadi anak yang taat dan bertaqwa kepada Allah SWT. Tentu kebanggannya bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat.

3. Sedekah Jariyah dalam Bentuk Barang.

Sedekah jariyah yaitu menggunakan harta atau barang yang kita miliki untuk sesuatu yang bermanfaat dan selama barang tersebut ada, bisa dimanfaatkan, dan tidak berkurang nilainya. Maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita. Untuk mengamalkannya, kita bisa memberikan barang-barang yang bermanfaat dan bernilai seperti Al-Quran, kendaraan, rumah, bangunan, atau fasilitas apapun yang bisa digunakan oleh banyak orang.

Saat ini banyak juga orang-orang di pelosok daerah yang sedang belajar Islam. Namun mereka kekurangan Al-Quran dan sumber-sumber buku belajar Islam. Untuk itu, Mushaf Al-Quran adalah salah satu bentuk sedekah jariyah yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang sedang berjuang mempelajarinya.

4. Membangun Fasilitas Umum dengan Rezeki yang Halal.

Masih ingat kisah sumur raumah yang Ustman bin Affan beli dari seorang Yahudi, lalu secara cuma-cuma ia berikan untuk fasilitas umum. Sumur tersebut pun bisa digunakan oleh umat Islam maupun umat Yahudi saat itu.

Utsman bin Affan sangat termotivasi untuk menjadikan sumur tersebut sebagai lahan amal jariyah dan pahala yang besar. Maka ia pun tak ragu untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Apalagi saat itu memang umat Islam pun tengah mengalami musim paceklik dan hanya ada sumur tersebut milik yahudi yang bisa dimanfaatkan.

Motivasi Utsman pun lahir karena seruan dari Rasulullah SAW, “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah SWT.”

Jika kita memiliki kemampuan, maka kita pun bisa melakukan hal yang sama seperti Utsman bin Affan. Misalnya saja, membangun sumur atau sumber air bersih untuk masyarakat di wilayah kekeringan, membangunkan jembatan yang rusak pasca bencana alam, membangun masjid, sekolah, atau hal-hal lain yang dapat dimanfaatkan. Selama fasilitas itu ada dan berfungsi tentunya pahala akan terus mengalir kepada kita.

5. Berwakaf Tunai dengan Harta yang Dimiliki.

Menurut para ulama, sedekah jariyah yang dimaksud dalam hadits tentang amal jariyah adalah bisa dalam bentuk wakaf. Namun, jika belum bisa berwakaf dalam bentuk bangunan, tanah, rumah atau aset yang bernilai besar lainnya, maka kita bisa mulai berwakaf dengan tunai atau disebut juga dengan wakaf tunai. Wakaf tunai bisa dalam bentuk uang, surat berharga yang nantinya diserahkan kepada lembaga wakaf terpercaya. Nominal dari wakaf tunai tidak ditentukan atau dibatasi, kita bisa memulainya sesuai dengan kemampuan.

Nantinya uang atau surat berharga tersebut akan dikumpulkan bersama uang dari pewakif lainnya dan akan diwujudkan dalam bentuk investasi atau hal-hal produktif yang mendatangkan keuntungan. Keuntungan tersebut akan digunakan untuk kepentingan mauquf alaih (penerima manfaat wakaf).

Jadi, sudah tidak ada lagi penghalang untuk kita bisa melaksanakan amalan jariyah, karena Allah SWT memberikan banyak kemudahan. Berapapun yang bisa kita berikan, maka keluarkanlah agar mendapatkan pahala jariyah berbalas surga dari Allah SWT. Lakukan secara istiqomah dan dapatkan manfaat yang besar, baik di dunia maupun di akhirat.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)