Pertanyaan ini sering muncul dalam hati banyak orang. “Saya saja masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah pantas bersedekah?”
Tak sedikit yang merasa bahwa sedekah hanyalah untuk mereka yang sudah mapan, yang saldo rekeningnya tebal, atau yang tidak perlu memikirkan besok makan apa. Padahal, Islam tidak pernah membatasi kebaikan hanya untuk orang yang kaya. Justru, di saat hidup sedang pas-pasan, sedekah memiliki nilai yang jauh lebih tinggi di sisi Allah.
Kenapa begitu? Karena sedekah bukan diukur dari jumlah, tapi dari keikhlasan.
Allah tidak menilai seberapa besar nominal yang diberikan, melainkan seberapa tulus niat dan keyakinan hati ketika memberi. Bisa jadi seribu rupiah dari seseorang yang sedang kesulitan lebih berharga daripada sejuta dari orang yang bergelimang harta.
Dalam kondisi lapang, memberi itu mudah. Tapi dalam kondisi sempit, memberi berarti mengalahkan rasa takut akan kekurangan. Di situlah letak keagungan sedekah, ia bukan sekadar tindakan sosial, tapi juga bentuk nyata dari tawakal dan iman yang mendalam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang diberikan ketika kamu masih sehat dan merasa kikir, takut miskin, dan berharap kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah terbaik justru dilakukan di masa kita masih berjuang, ketika hati sedang diuji antara ingin menahan atau melepaskan. Karena di saat seperti itu, kita sedang membuktikan bahwa kepercayaan kepada janji Allah lebih besar daripada ketakutan terhadap kekurangan.
Sedekah bukanlah penyebab kemiskinan, justru ia pintu pembuka keberkahan dan kelapangan rezeki.
Allah sudah menjaminnya dalam Al-Qur’an:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Bayangkan, satu biji saja bisa tumbuh menjadi tujuh ratus kali lipat. Itulah janji Allah untuk membalas setiap sedekah kita. Sekecil apa pun, akan tumbuh menjadi kebaikan yang berlipat, baik di dunia maupun di akhirat.
Namun, balasan dari sedekah tidak selalu dalam bentuk uang. Kadang Allah membalasnya lewat kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, hati yang tenang, atau masalah yang terselesaikan tanpa disangka. Sering kali manusia tidak menyadari bahwa keberkahan hidup yang ia rasakan adalah hasil dari amal kecil yang ia lakukan dengan ikhlas.
Sedekah itu seperti menanam benih kebaikan. Kita mungkin menanam satu, tapi Allah bisa menumbuhkan menjadi ladang pahala yang luas. Bahkan, dari sedekah kecil yang dilakukan terus-menerus, seseorang bisa membuka pintu rezeki yang tak pernah ia duga sebelumnya. Karena Allah telah berjanji:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ٣٩
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.' Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Saba’: 39)
Kisah para sahabat Rasulullah juga menunjukkan hal yang sama. Ada sahabat miskin yang datang dengan membawa segenggam kurma untuk bersedekah. Sebagian orang menertawakannya karena dianggap terlalu sedikit. Namun Rasulullah menegurnya, dan beliau bersabda bahwa setiap sedekah, sekecil apa pun, tetap bernilai besar di sisi Allah jika disertai dengan ketulusan hati.
Jadi, jangan menunggu kaya untuk mulai berbagi. Karena jika menunggu punya lebih, mungkin kita akan terus menunda. Mulailah dari yang kecil seperti memberi segelas air untuk orang haus, sepotong roti untuk yang lapar, atau bahkan sekadar senyuman tulus yang bisa menguatkan hati orang lain. Semua itu termasuk sedekah.
Sedekah bukan hanya soal memberi harta, tapi juga memberi manfaat. Bagi yang tak punya uang, doa, tenaga, ilmu, atau waktu pun bisa menjadi sedekah yang tak kalah bernilai. Intinya, setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah adalah bentuk sedekah.
Maka, walau hidup sedang pas-pasan, jangan ragu untuk berbagi. Karena yang sedikit di tangan manusia bisa jadi besar di sisi Allah. Dan yakinlah, tak ada satu pun kebaikan yang akan sia-sia. Karena setiap kali kita memberi, sebenarnya kita sedang menanam harapan dan membuka pintu langit untuk turunnya rahmat. Sebab Allah tidak akan pernah membiarkan hamba yang dermawan menjadi kekurangan. Justru dari tangan yang memberi, rezeki akan terus mengalir.