WAKAF MANDIRI - Mampukah kita menghitung nikmat Allah SWT yang telah kita dapat hingga saat ini? Tentu tidak. Menghitung jumlah nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, terlebih sehari, bahkan selama hidup kita di dunia ini.
Tidur, bernafas, makan, minum, bisa berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat dari Allah SWT. Bahkan bersin pun adalah sebuah nikmat. Jika dirupiahkan sudah berapa rupiah nikmat Allah itu? Mampukah kalkulator menghitungnya? Tentulah, tidak. Sampai kapan pun, kita tidak akan bisa menghitungnya.
Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)
Karena itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara bersyukur kepada Allah SWT dan bagaimana tata cara merealisasikan syukur itu sendiri. Ketahuilah bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersyukur. Hamba yang bersyukur merupakan hamba yang dicintai oleh Allah. Seorang hamba dapat dikatakan bersyukur apabila memenuhi tiga hal berikut ini,
Orang yang menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah, maka ia adalah hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah SWT, hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh.
Hamba yang bersyukur kepada Allah, ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hambaNya. Allah cinta kepada hamba-hambaNya yang senantiasa memuji Allah SWT. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh Dhuha: 11)
Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan memberi rezeki kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi).
Sesungguhnya orang yang bersyukur kepada Allah, akan menggunakan nikmat Allah untuk beramal shalih, tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ia gunakan matanya untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ketiga hal tersebut adalah kategori seorang hamba yang bersyukur, yakni bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.