Dalam Islam, mencari nafkah yang halal adalah ibadah. Tapi sering kali, fokus mengejar harta membuat kita lupa untuk menanyakan: “Sudah sejauh mana harta ini digunakan di jalan Allah?”
Harta pada dasarnya adalah amanah, bukan sekadar milik pribadi. Allah memberi rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi juga agar bisa menjadi jalan manfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, harta tidak akan dibawa mati, melainkan hanya amal yang dilakukan dengan harta itu. Allah berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat ini mengingatkan bahwa penyesalan terbesar manusia sering kali datang ketika waktu sudah habis, ketika baru sadar bahwa harta yang disimpan tak lagi punya nilai.
1. Mulai dari Menolong Sesama
Menggunakan harta di jalan Allah tidak harus menunggu kaya raya. Justru, sedekah kecil dari hati yang ikhlas bisa bernilai besar di sisi Allah. Rasulullah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Di zaman sekarang, bentuknya bisa beragam: membantu teman yang kesulitan, membiayai pendidikan anak yatim, atau ikut berdonasi untuk korban bencana. Setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan Allah adalah investasi akhirat yang tidak akan rugi.
2. Jadikan Sedekah Sebagai Rutinitas
Sedekah bukan hanya perkara jumlah, tapi tentang konsistensi dan keikhlasan. Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di era digital, kita bisa bersedekah dengan mudah lewat berbagai platform online yang terpercaya. Tak perlu menunggu kaya, cukup istiqamah memberi walaupun jumlahnya sedikit , karena dari situlah keberkahan tumbuh.
3. Berwakaf dan Menebar Manfaat Jangka Panjang
Kalau sedekah memberi manfaat sesaat, wakaf memberi manfaat sepanjang masa. Rasulullah bersabda:
ِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Sekarang, bentuk wakaf juga semakin luas: bisa berupa mushaf Al-Qur’an, fasilitas pendidikan, peralatan ibadah, bahkan dukungan terhadap program sosial berbasis digital. Selama manfaatnya terus berjalan, pahala pun terus mengalir.
4. Gunakan Harta untuk Dakwah dan Kebaikan Sosial
Zaman sekarang, dakwah tidak hanya di masjid. Dakwah juga bisa lewat konten digital, karya kreatif, dan teknologi. Menginfakkan sebagian harta untuk mendukung dakwah berarti ikut menyebarkan cahaya Islam ke lebih banyak orang. Bayangkan jika setiap orang yang tersentuh hatinya karena pesan dakwah yang kita bantu sebarkan pahalanya juga mengalir pada kita.
5. Bisnis dengan Nilai Ibadah
Gunakan rezeki untuk membangun usaha yang membawa manfaat, kehalalan, jujur, dan tidak merugikan orang lain. Rasulullah bersabda:
إلَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya... tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)
Setiap transaksi halal dan usaha yang jujur juga bagian dari jihad ekonomi di jalan Allah.
Harta bukan musuh, tapi ujian. Ia bisa mengantarkan ke surga, atau justru menjadi beban di akhirat, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Maka, jangan biarkan hartamu hanya berputar di dunia. Jadikan ia sebagai bekal menuju surga, dengan menyalurkannya di jalan Allah. Karena sejatinya, yang benar-benar milik kita hanyalah apa yang sudah kita infakkan di jalan-Nya.