...
Adzab Jarang Sedekah

WAKAF MANDIRI – Tahukah, bahwa jarang sedekah bisa mendatangkan efek buruk, bahkan adzab dalam hidup seseorang. Berikut ini beberapa efek buruk akibat jarang sedekah. Yakni,

  1. “Berhutang” setiap hari.

Mengapa berutang? Karena faktanya kita memiliki kewajiban bersedekah setiap harinya. Bahkan, setiap ruas tulang kita pun memiliki kewajiban untuk bersedekah.

Nabi SAW bersabda, “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Artinya, dengan tidak menunaikan sedekah, setiap ruas tulang kita berutang setiap harinya. Padahal bisa kita bayar kewajiban sedekah tersebut dengan berbuat kebaikan, berdzikir, atau melaksanakan shalat Dhuha.

Jika tetap enggan bersedekah, tentu saja suatu hari utang tersebut harus dibayar. Misalnya dengan masalah kesehatan yang harus kita hadapi. Inilah yang dinamakan dengan ‘adzab’ karena tidak bersyukur.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

  1. Sulit merasakan nikmatnya harta yang dimiliki.

Pernahkah mengenal orang kaya raya yang terlihat tidak menikmati hidupnya. Ia memiliki banyak rumah, mobil, deposito, dan bisa melakukan apapun yang ia inginkan dengan uangnya. Namun, ia tampak tidak bahagia.

Memang hal tersebut tidak mengherankan, karena siapa pun yang tidak mau menyedekahkan sebagian harta yang dimilikinya untuk orang lain, niscaya akan kesulitan merasa nikmat atas harta yang dimilikinya. Entah karena ia tertimpa penyakit berbahaya, atau kebakhilan telah membuatnya takut kehilangan dunia, sehingga hidupnya tidak tenteram.

Sebaliknya, sesedikit apapun harta yang kita miliki, namun jika masih bersedia berbagi dengan orang lain, itu berarti kita telah memiliki kekayaan hati. Dari kekayaan hati itulah, kita bisa mereguk kenikmatan hidup yang tak terkira.

“Rasulullah SAW berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?”. “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,”. Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas),” (HR. Ibnu Hibban)

  1. Hartanya akan menjadi musuhnya kelak di akhirat.

Sungguh rugi orang yang enggan bersedekah karena tidak menyadari, bahwa semua harta kekayaan yang disimpannya suatu hari nanti berbalik menjadi musuhnya.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka articleshukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 34-35).