Card image
BERWAKAF DIKALA SEDANG SULIT

Menjadi hamba yang selalu taat pada perintah Allah serta Rosul nya tentu menjadi harapan setiap orang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan baik menjaga hubungan dengan Allah SWT atau hubungan dengan sesama manusia.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk menjadi orang yang taat adalah bersedekah. Seperti ayat Allah yang terdapat dalam surat Al – Baqarah ayat 195 yang artinya : “ Dan infakkanlah (hartamu ) dijalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri ) ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sungguh. Allah menyukai orang yang berbuat baik”.

Dari ayat diatas Allah sangat menyukai orang – orang yang mau berinfak atau memberikan sedikit hartanya bagi yang membutuhkan. Berbicara mengenai amalan berbagi, tentu banyak jenisnya, salah satu yang sering kali kita dengar adalah wakaf.

Wakaf sendiri banyak yang beranggapan harus dengan harta benda yang nilainya jutaan, namun pada kenyataanya, nilai dalam berwakaf tidak harus besar, seperti halnya wakaf uang yang sudah ada dalam peraturan perundang – undangan.

Kembali ke ayat yang tadi, “ Jangan jatuhkan kamu kedalam kebinasaan” bisa dikaitkan dalam perintah untuk berinfak. Oleh sebab itu beribadah dengan harta. Memberikan atau menyisihkan harta benda menghindarkan dari kebinasaan atau kebangkrutan. Adapun hadist Rosulullah SAW yang mengingantkan kita akan adanya dua Malaikat berdoa setiap pagi untuk yang mengeluarkan harta (dermawan) dan yang menahan harta (bakhil).

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Ketika hamba berada di suatu pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “ Ya Allah, berikanlah ganti pada yang gemar berinfak ( rajin memberi nafkah pada keluarga ).” “Malaikat yang lain berdoa, “ Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” ( HR. Bukhari Muslim)

Tentu kita pernah mendengar saat para sahabat Nabi menangis ketika tidak ada yang bisa disedekahkan. Dengan begitu amalan yang bisa disedekahkan tidak akan membuat kita merugi melainkan balasan yang Allah janjikan jauh lebih banyak.

Ibnu Abbas ra berkata : “ Berinfaklah meskipun hanya dengan satu saham. Jangan sampai ada yang berkata : “saya tidak punya apa – apa yang bisa diinfakan””.

Dalam surat At – Taubah : 92 “ Dan tidak ada (pula dosa) atas orang – orang yang datang kepadamu (Muhammad ), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata “ aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakan”. ( QS. At – Taubah : 92 ).

Yang menjadi ujian terberat dalam hidup adalah beribadah dengan harta disaat sedang sulit dan kekhawatiran menjadi miskin. Namun seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa Allah tidak akan membiarkan umatnya sulit ketika rela menyedekahkan hartanya.

Beribadah dengan harta yang bersifat sukarela seperti wakaf, infak dan sedekah. Dalam hal ini wakaf lebih digalakkan karena berkesinambungan dan berkelanjutan dengan manfaatnya, malah harta yang diwakafkan bisa bertambah dan meningkat sehingga banyak mauquf ‘alaih yang bisa merasakan manfaatnya.

Wakaf berbeda dengan zakat. Zakat sifatnya wajib karena ada nashab yang ditentukan dan diwajibkan bagi yang mampu atau harta bendanya sudah mencapai nishab. Sedangkan wakaf sifatnya sukarela, sehingga berapapun tetap bisa dilakukan baik kecil, sedikit. Oleh sebab itu berwakaf diwaktu sempit tetap bisa dilakukan.

Merujuk kepada hadis Rosulullah SAW ketika menjawab pertanyaan dari sahabat tentang infak yang lebih bernilai dan berpahala besar : “ Hendaklah engkau berinfak dalam keadaan berat karena khawatir menderita kefakiran, dan engkau mengharapkan kekayaan “. ( HR. Muslim )

Karena wakaf sukarela, maka berwakaf tentunya tidak mengenal waktu dan keadaan, kapan saja tetap bisa dilakukan. Seseorang yang rela mewakafkan hartanya dikala sempit tentu sifat dermawanan akan teruji.

Allah SWT sangat mencintai orang – orang yang mampu bersikap ihsan. Jika dalam konteks wakaf adalah bagaimana orang yang bersedia berwakaf dengan kepemilikannya yang tidak dibatasi. Saat itulah ia dikategorikan termasuk “Muhsinin”.

Untuk itu berwakafklah dalam keadaan apapun. Terlebih untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Quotes

WAKAF MANDIRI adalah Platform Donasi Digital milik LAZNAS Yatim Mandiri, sebagai media untuk memudahkan donatur dalam menyalurkan donasi wakafnya.